Pandak - Penghayat kepercayaan dan pemerhati budaya dari berbagai wilayah berkumpul dalam kegiatan Sarasehan Agung Mapag Wulan Sura 1960 BE Saka Jawa yang diselenggarakan di Pendapa Agung Wijirejo, Pandak. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam menyambut datangnya Wulan Sura dengan penuh rasa syukur, introspeksi, serta penghayatan terhadap nilai-nilai luhur warisan leluhur yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Sarasehan berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh keakraban. Selain menjadi ajang silaturahmi, kegiatan ini juga menjadi ruang dialog dan refleksi bersama untuk memperkuat persaudaraan antar penghayat kepercayaan dan masyarakat pecinta budaya. Melalui forum ini, para peserta diajak untuk semakin meneguhkan jati diri, memperdalam pemahaman tentang ajaran budi pekerti, serta memperkuat komitmen dalam melestarikan nilai-nilai budaya yang menjadi pedoman kehidupan bermasyarakat.
Hadir sebagai narasumber, Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M.Hum, Semidi Martha, S.Pd, dan Ki Besar Kelik Krismartono yang menyampaikan berbagai pemikiran mengenai makna filosofis Wulan Sura, pentingnya pelestarian budaya Jawa, serta implementasi nilai-nilai spiritual dan moral dalam kehidupan sehari-hari. Para narasumber menekankan bahwa Wulan Sura bukan sekadar pergantian tahun dalam penanggalan Jawa, melainkan momentum untuk melakukan perenungan diri dan memperkuat hubungan harmonis dengan sesama, alam, serta Sang Pencipta.
Melalui kegiatan ini, diharapkan semangat Wulan Sura dapat terus menjadi pengingat bagi masyarakat untuk senantiasa menjaga kerukunan, memperkuat karakter luhur, serta melestarikan kebudayaan sebagai bagian penting dari identitas bangsa. Sarasehan Agung ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai tradisi dan kearifan lokal tetap relevan dalam menjawab tantangan kehidupan di masa kini.
