Berita

JEJAK SEJARAH PANGERAN DIPONEGORO DI MAKASAR

Rabu Pahing, 21 Februari 2018 08:46 WIB 302

foto

Diponegoro yang dilahirkan pada 11 November 1785 merupakan putera Hamengkubuwono III – Raja ke-3 di Kasultanan Ngayogyakarto- dengan RA. Mangkarawati , garwa ampeyan (selir) dari Pacitan. Terlahir dengan nama Mustahar. Semasa kecilnya P. Diponegoro bernama Bendara Raden Mas Antawirya. Menyadari kedudukannya sebagai putera dari selir, Diponegoro menolak keinginan Sultan Hamengkubuwana III untuk mengangkatnya menjadi raja.

Diponegoro setidaknya menikah dengan 9 wanita dalam hidupnya :

  1. BRA. Retno Madubrangta puteri Kyai Gedhe Dhadapan
  2. RA. Supadmi puteri Bupati Panolan, Jipang
  3. RA. Retnodewati
  4. Ray. Citrawati puteri Raden Tumenggung Rangga Parwirasentika
  5. RA Maduretno putri R. Rangga Prawirodirjo III
  6. Ray. Ratnaningsih puteri bupati Jipang Kepadhangan
  7. RA Retnakumala
  8. RAy.Ratnaningrum putri P. Penekah
  9. Syarifah Ratnaningrum putri Datuk Husein

Diponegoro lebih tertarik pada kehidupan keagamaan dan merakyat sehingga lebih suka tinggal di Tegalrejo  tinggal eyang buyut putrinya, Gusti Kanjeng Ratu Tegalrejo.

Perang Diponegoro berawal dari pematokan tanah Diponegoro di Tegalrejo oleh Belanda. Juga karena Belanda tidak menghaegai kebudayaan dan mengeksploitasi rakyat dengan pembebanan pajak. Atas saran GPH Mangkubumi-pamannya , Diponegoro  menyingkir ke Selarong-yang dikenal dengan Goa Selarong. Perlawanan Diponegoro ini didukung oleh Kyai Mojo, seorang tokoh agama di Surakarta, Sunan Pakubuwono VI, dan Raden Tumenggung Prawiradigdaya-Bupati Gagatan.

Menurut Peter Carey (2016) dalam Takdir : Riwayat Pangeran Diponegoro 1785-1855 disebutkan sebanyak 112 kyai, 31 haji, 15 syekh dan puluhan penghulu berhasil diajak bergabung. Selama perang ini kerugian Belanda mencapai 15.000 tentara dan 20 juta gulden.

Pada tahun 1827 Belanda menyerang Diponegoro dengan sistem benteng sehingga Diponegoro terdesak. Tahun 1829 Kyai Mojo, pemimpin spiritual pemberontakkan, ditangkap. Menyusul kemudian Pangeran Mangkubumi dan panglima utamanya Sentot Alibasyah. Tanggal 28 Maret 1830 Jendral De Kock berhasil menjepit Diponegoro dan pasukannya di Magelang. Disana Diponegoro bersedia menyerahkan diri dengan syarat sisa pasukannya dilepas. Setelah menyerahkan diri, Diponegoro diasingkan ke Manado di Fort Amsterdam, lalu dipindah ke Makasar hingga wafatnya di Fort Roterdam tanggal 8 Januari 1855.

Beliau dimakamkan di Wajo, Makasar, Sulsel. Lokasi makam Diponegoro terletak tidak jauh dari pusat kota Makasar. Makam Diponegoro bersanding dengan dengan istrinya RA Ratnaningsih. Selain 2 makam ini, di komplek tersebut terdapat 25 makam sedang dan 39 makam kecil yakni 6 orang anak, 30 cucu, 19 cicit ditambah 9 pengikut setia beliau. Di komplek ini juga terdapat mushala dan rumah untuk jurukuncinya. R. Hamzah, jurukunci dan generasi kelima P. Diponegoro menuturkan bahwa selama pengasingan di Makasar, tidak ada warga Makasar menyadari keberadaan Diponegoro. “ Pihak Belanda sangat tertutup. Mereka merahsiakan keberadaan Diponegoro karena takut akan menimbulkan gejolak perlawanan dari warga Makasar “ ungkapnya. “ Baru setelah Diponegoro meninggal, warga setempat mengetahui keberadaan Diponegoro. Sampai kemudian putra putrinya menikah dengan orang Bugis “ imbuhnya.

“ Dulu komplek makam ini belum sebagus sekarang. Baru setelah ditetapkan menjadi Pahlawan Nasional di tahun 1973, makamnya mulai mendapat perhatian “. “Kodam IV Diponegoro yang merenovasi karena dipakai sebagai simbol kemiliteran Indonesia. Saya yang meneruskan merawat makam ini dan saya mendapat surat kekancingan dari Kraton Ngayogyakarta “ imbuh Hamzah.


Dinas Kebudayaan

igdisbud

fbdisbud

twdisbud

Pengunjung
  • Pengunjung: 79462
  • Online: 3
  • Hari ini: 101